Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat (JAKER) didirikan pada tahun 1993 oleh beberapa pekerja seni dan budaya, salah satunya olehWiji Thukul, sebagai wadah bagi para pekerja seni dan budaya yang mempunyai keberpihakan atas nasib rakyat.
JAKER lahir hasil pergulatan sejarah pada saat krisis ekonomi dan politik yang berdampak secara langsung kepada rakyat dan pekerja seni budaya. Di bawah ancaman represi, muncul kesadaran para pekerja seni dan budaya untuk membangun sebuah wadah perlawanan sambil terus menyuarakan persatuan.
Para pekerja seni dan budaya yang sebenarnya berperan penting dalam pembangunan karakter bangsa lewat misi kebudayaannya ternyata sampai saat ini belum mendapatkan panggungnya di tengah bangsa yang sedang kehilangan jati dirinya. Setelah kemerdekaan di proklamasikan, sampai sekarang cita-cita TRISAKSI, khususnya berkepribadian dalam kebudayaan belum terwujud.
Di usianya yang sudah 23 tahun ini, JAKER menggagas sebuah Konferensi Nasional 2016.
Untuk mengetahui lebih lanjut tentang agenda Konfernas 2016 nanti, Siti Rubaidah dari berdikarionline.com melakukan wawancara dengan Roso Suroso, selaku Ketua Panitia Konfernas 2016.
Berikut petikan wawancaranya: 
Kami dengar JAKER akan menyelenggarakan Konfernas 2016. Kapan dan di mana pelaksanaan Konfernas 2016 tersebut ?
Iya benar. JAKER akan melaksanakan Konferensi Nasional. Rencana akan dilaksanakan pada akhir bulan Agustus 2016, bertempat di Jakarta.
Bisakah dijelaskan, apa tema yang akan diangkat oleh JAKER dalam Konfernas 2016 nanti? Mengapa tema tersebut yang diangkat?
Konfernas JAKER ini akan mengusung tema “Memperkuat Kebudayaan Nasional Menangkan TRISAKTI”. Pemilihan tema ini sendiri setelah melalui diskusi yang panjang diantara pengurus pusat JAKER saat memutuskan untuk melaksanakan Konfernas. Kenapa tema ini yang dipilih, Kami melihat bahwa saat ini kebudayaan nasional masih sangat lemah sehingga kita sebagai bangsa seperti tidak memiliki jati diri yang jelas. Oleh karena itu kami ingin mengajak kepada seluruh elemen bangsa terutama para budayawan nya untuk bersama sama memperkuat kebudayaan nasional kita, dalam artian kita mempertegas kembali apa yang menjadi budaya nasional kita dan kemudian kita akan menggunakan kebudayaan nasional itu untuk memenangkan cita cita TRISAKTI.
Apakah Konfernas 2016 ini akan menghadirkan tokoh nasional? Siapa dan daerah mana saja yang akan terlibat?
Ya. Dalam Konfernas kali ini JAKER telah membuat daftar beberapa tokoh nasional yang akan di undang untuk ikut hadir dalam Konfernas. Dan kami juga telah menyampaikan kepada kawan kawan di daerah untuk melakukan pertemuan dan diskusi dengan para tokoh dan budayawan di daerah masing masing. Dan selanjutnya kami berharap tokoh daerah juga akan ikut dalam Konfernas JAKER kali ini.
Menurut  Anda, apakah bangsa Indonesia sudah berkepribadian dalam budaya sebagaimana yang sering didengungkan oleh Sukarno dalam trisakti?
Sebenarnya kita sudah memiliki kepribadian dalam budaya. Dan seharusnya kita tidak malu untuk menunjukkan budaya kita tersebut. Namun saat ini  sepertinya budaya kita sudah tergerus oleh budaya luar yang begitu kuatnya masuk ke Negeri kita. Sehingga kita seperti tidak memiliki akar budaya lagi. Inilah yang harus kita lakukan, kembali mempertegas jati diri kita, budaya kita, dan bersama sama kita harus memperkuatnya agar kita mampu memenangkan peretarungan dengan budaya luar yang begitu massif masuk sampai ke pelosok desa.
Bagaimana implementasi berkepribadian dalam budaya menurut Anda?
 Itu dia, saat ini lebih banyak diantara kita yang saat ini justru enggan untuk mengimplementasikan kepribadian kita sendiri, kita hanya ikut budaya luar. Membebek bahasa kerennya. Sehingga seringkali kita seperti tidak memiliki kepribadian dalam budaya. Padahal sebenarnya budaya kita cukup kuat untuk mengangkat kepribadian bangsa dimata dunia Internasional.
Sejauh ini apakah Anda melihat bahwa Pemerintahan Jokowi – JK sudah memprioritaskan kebudayaan dalam program Nawacitanya? 
Dalam tataran Program dari pemerintah Jokowi – JK jelas bahwa kebudayaan merupakan prioritas untuk dilaksanakan sebagai modal dalam memperbaiki kinerja pemerintahan dan juga memperbaiki perilaku masyarakat dan juga kepribadian kita. Revolusi Mental adalah salah satu bentuk prioritas perbaikan budaya kerja di pemerintahan Jokowi – JK dan prilaku masyarakat, namun pelaksanaannya saya melihat masih belum maksimal.
Apa harapan JAKER pada Pemerintahan Jokowi –JK untuk program kebudayaan nasional kita?
JAKER berharap pemerintahan Jokowi – JK kedepannya akan lebih serius lagi dalam pelaksanaan Revolusi Mental yang selama ini di kampanyekan. Sehingga program program kebudayaan kedepan akan membawa Indonesia menjadi lebih baik dimata Internasional. Pemerintah Jokowi – JK harus mampu menemukan akar persoalan yang membuat kebudayaan kita menjadi lemah dan mampu merumuskan strategi yang tepat untuk bisa mengangkat kebudayaan nasional.
Kembali pada Konfernas 2016, apa target yang ingin JAKER capai dalam Konfernas 2016 nanti?
Sesuai tema yang kami usung dalam Konfernas ini, maka target yang ingin di capai adalah kami bisa menemukan strategi yang tepat untuk Memperkuat Kebudayaan Nasional. Strategi kebudayaan inilah yang akan menjadi alat bagi JAKER nantinya untuk bisa menyatukan seniman dan budayawan dalam satu langkah memperkuat kebudayaan nasional. Sehingga kita bisa merumuskan bersama problem pokok dalam kebudayaan kita dan bagaimana problem tersebut mampu kita selesaikan dan menghasilkan masyarakat Indonesia yang Berkepribadian dalam Budaya.

Roso Suroso: Memperkuat Kebudayaan Nasional Untuk Memenangkan Trisakti

Bagaimana jalannya Republik di era Demokrasi Terpimpin, yaitu antara keluarnya Manifesto Politik (5 Juli 1959) hingga naiknya rezim Soeharto (11 Maret 1967)?

Sejauh ini, sebagian kita—terutama saya–belum punya gambaran lengkap mengenai era tersebut. Bahkan, saking kurangnya pengertian dan pemahaman utuh mengenai era tersebut, demokrasi terpimpin kerap diartikan salah sebagai era totaliter.

Tetapi jangan khawatir. Baru-baru ini penerbit Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat (Jaker) sudah menerbitkan buku Kronik Abad Demokrasi Terpimpin. Buku setebal 671 halaman itu mencatat berbagai kejadian politik, ekonomi, sosial, dan budaya yang terjadi sepanjang 5 Juli 1959 hingga 11 Maret 1967.

Penyusun Kronik Abad Demokrasi Terpimpin adalah Koesalah Soebagyo Toer. Kita tahu, dalam urusan menyusun Kronik, Koesalah sangat berpengalaman. Bersama dengan Pramoedya Ananta Toer dan Ediati Kamil, dia menyusun lima jilid Kronik Revolusi Indonesia: Jilid I (1945), Jilid II (1946), Jilid III (1947), Jilid IV (1948), dan Jilid V (1949).

Menurut Koesalah dalam pengantar buku ini, demokrasi terpimpin (guided democracy) adalah jenis demokrasi yang dimaksudkan oleh Bung Karno untuk menggantikan demokrasi liberal Barat yang tidak sesuai dengan kepribadian dan masyarakat Indonesia.

Bung Karno sendiri sering menyindir demokrasi liberal barat sebagai demokrasi “setengah tambah satu” atau demokrasi de half plus een. Sebagai antitesanya, Bung Karno mengajukan demokrasi yang berbasis pada kepribadian bangsa Indonesia, yakni demokrasi musyawarah dan mufakat.

Selain itu, kata Koesalah, gagasan Demokrasi Terpimpin muncul setelah Bung Karno terkesan dengan sistem komunis usai berkunjung ke Uni Soviet dan Republik Rakyat Tiongkok pada bulan Mei 1956.

“Menurut Bung Karno, hanya dengan jalan yang ditempuh oleh kedua negeri itulah cita-cita masyarakat adil dan makmur dapat diwujudkan,” jelas Koesalah.

Kemudian, pada peringatan HUT Kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus 1957, Bung Karno mulai memunculkan gagasan itu kepada khalayak. Pidato itu kemudian dinamai Satu Tahun Ketentuan (A Year of Decision).

Dalam pidato itu Bung Karno antara lain bilang:

“Berilah bangsa kita satu demokrasi yang tidak liar. Berilah bangsa kita satu demokrasi gotong-royong yang tidak jégal-jégalan. Berilah bangsa kita satu demokrasi “met leiderschap” ke arah keadilan sosial. Berilah bangsa kita satu demokrasi terpimpin. Sebab demokrasi yang membiarkan seribu macam tujuan bagi golongan atau perseorangan, akan menenggelamkan kepentingan Nasional dalam arusnya malapetaka!”

Penerbit Jaker berharap, buku ini bisa memberikan gambaran detail kepada generasi sekarang day to day tentang jalannya Demokrasi Terpimpin Bung Karno hingga pembalikannya yang dilakukan Jendral Soeharto.

“Buku ini layak dibaca siapa saja yang mencintai negeri ini agar melihat bagaimana proses perubahan itu terjadi..terlebih dengan situasi politik hari ini..yang mulai jenuh dengan suasana demokrasi liberal, keterpurukan bangsa di berbagai bidang hingga menguatnya kembali politik Trisakti Bung Karno,” ujar Antun Joko Susmana dari Penerbit Jaker, Sabtu (30/1/2016).

Dia juga berharap, generasi sekarang bisa belajar dari proses demokrasi terpimpin bung karno hingga diinterupsi Orde Baru agar tak jatuh ke lubang yang sama dalam membangun dan meneruskan cita-cita proklamasi 1945, yaitu menuju masyarakat adil dan makmur.

Sumber Artikel: Berdikari Online

JAKER Terbitkan Buku 'Kronik Abad Demokrasi Terpimpin'


Bengkulu Tempo dulu yang dikemas dalam acara Hari Ulang Tahun (HUT) Kota Bengkulu ke-297 nanti mendapat sambutan hangat dari masyarakat.

Diantaranya datang dari Ketua Badan Musyawarah Adat (BMA) Kota Bengkulu S. Effendi. Dia berharap, konsep acara Bengkulu Tempo Dulu harus melibatkan seluruh kalangan masyarakat, termasuk kalangan anak-anak.

Dunia anak sangat identik dengan permainan, karena itu, lanjutnya pihak panitia HUT Kota harus memberikan sebuah wadah.

“Sangat banyak permainan anak-anak tempo dulu yang ada di Kota Bengkulu, seperti Lompat kodok, gasing, congklak, main yeye, gelabur dan antu tinggi. Jadi bukan hanya orang tua dan dewasa saja yang terlibat di sana, anak-anakpun harus dilibatkan,” tegas Effendi.

Tambahnya, anak-anak sekolah dari tingkat PAUD, TK ataupun SD bisa dilibatkan dalam permainan tradisional itu.

Jika sebelumnya dirancang komunitas sepeda ontel, Effendipun mengusulkan supaya dilibatkan pula kalangan dari komunitas sepeda motor dan mobil tua.

“Kalau memang mau, saya siap untuk menginventarisir kawan-kawan yang memiliki motor dan mobil tua, seperti VW,” ujarnya.

Pada rapat persiapan acara HUT Kota Bengkulu Jumat, 29/01/2016, selaku Ketua BMA Kota Effendi diundang oleh Pemkot. Namun, pada saat bersamaan beliau sedang berada di luar kota, sehingga tidak dapat hadir. “Undangan rapat ada, tapi waktu itu saya ada urusan di luar kota,” pungkas Effendi.

Sumber Artikel: Pedoman Bengkulu

Permainan Bengkulu Tempo Dulu


Di penghujung senja ku hisap angan
Bersama angin lembut pegunungan
Diantara belukar pinggiran kota
Mengenang hari hari yang tersisa

Dingin malam menusuk tulang
Sesaat berpaling pada khayalan
Mencari kesempurnaan hidup mencerna kisah semalam

Hariku berlaku tanpa batas
Mengungkap cakrawala dalam impian
Iringan angin menghantar pesan
Tentang rakyat yang tak pernah diam
Mencampur cinta dan amarah
Dalam amuk gelombang kekuasaan

Kemarin masih dapat kita berjumpa
Dengan mimpi yang menggoda
Tentang kekuasaan yang menyejukkan
Beriringan pemimpin yanng berjiwa

Melindungi rakyat dari ketamakan
Membasuh luka yang telah
menganga
Menyirami dengan kebijakan dann keadilan
Melepaskan belenggu yang mengekang langkah
Menyingkirkan beban derita

#
Di penghujung senja ku hisap angan
Bersama angin lembut pegunungan
Diantara belukar pinghiran kota
Dilingkup awan menyambut malam

Kemarin masih bisa kita tertawa
Ditumpukan janji para pendusta
Saatvmemilih pemimpin bangsa
Serta wakil rakyat di kursi dewan

Dalam kemeriahan pemilu raya
Kita turut menjarah uang negara
Meraup keuntungan sesaat tanpa rasa berdosa
Menerima rupiah dari kantung peserta
Yang dibagikan menjelang pesta

Kemarin masih dapat kita berjalan
Ditengah gemuruh berjuta pilihan
Janji terpampang sepanjang jalan
Menyuguhkan muslihat dan kebohongan

#
Di penghujung senja ku hisap angan
Bersama angin lembut pegunungan
Diantara belukar pinggiran kota
Memandang batas kegelapan

Mari coba kita renungkan
Laku diri yang pernah dilakukan
Dalam menghantar tahun berjalan
Menuju perubahan dan peradaban


Roso Suroso
Ciwidey, 19 Desember 2015

Di Penghujung Senja


“Ini panggung bersama, siapapun boleh tampil di sini untuk mengekspresikan kar-karyanya,” begitulah sambutan Ketua Umum Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat (Jaker), Tejo Priyono, saat membuka Reboan Jaker, Rabu (6/1/2015).

Menurut Tejo, sebagai organisasi kebudayaan Rakyat, Jaker memang terus menciptakan panggung seluas-luasnya demi lahirnya seniman-seniman kerakyatan.

Seperti pada Reboan Jaker kali ini, berbagai kelompok seni atau grup musik tampil mementaskan karya-karya mereka. Ada yang berpuisi, musikalisasi puisi, hingga menyanyikan lagu-lagu rock.

Diawali dengan penampilan Yose dan Taman Idris dari Rebelism Project. Mereka menyanyikan lagu-lagu dari grup rock kenamaan, Boomerang, seperti fajar pagi. Ada juga penampilan The Hook dan The Circle yang membawakan lagu-lagu ciptaan mereka sendiri.

Selain musik, seniman-seniman muda dari Kedai Rumput Hijau membacakan puisi-puisi mereka. Ada Eka Wahyu Pertiwi dan Sentra Arga. Keduanya membacakan puisi-puisi bertema lingkungan dan keserakahan manusia. Beberapa seniman dari Jaker, seperti Tari Adinda, Henri Kurniawan, dan Untung Sarwono, juga tampil membacakan puisi.

Di penghujung acara, kelompok Benang Merah tampil membawakan lagu-lagu John Lennon dan The Beatles. Mereka menyanyikan Imagine dan Love Me Do Juga menyanyikan lagu Darah Juang karya John Tobing. Terakhir mereka membawakan musikalisasi puisi.



Sumber Artikel: Berdikari Online

Dari Puisi Melow hingga Musik Cadas


Anda pernah mendengar pertunjukan drama “metateater”?

Sabtu (19/12/2015) malam, Sabtu (19/12/2015) malam, bertempat di Markas Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat (Jaker) di jalan Sawo Kecik Raya No 2A, Bukit Duri, Jakarta Selatan, Suharyoto Sastrosuwignyo menampilkan metateater.

Berbeda dengan teater pada umumnya, metateater tidak dikurung oleh bentuk panggung formal. Panggungnya adalah alam raya. “Panggung teater saya di mana saja. Di jalanan, angkringan, kampung-kampung, di tengah aksi demostrasi, dan dimana saja. Setiap tempat di alam raya ini adalah panggung,” jelas pria yag akrab disapa Aryo.

Metateater juga tidak terpaku oleh naskah. Begitu juga alur cerita. Semua bisa muncul secara spontan. Aryo menyebutnya sebagai ilham. Seperti malam itu, tiba-tiba saja di menemukan tema sajak berjudul Indomie Telur, setelah nongkrong dan makan Indomie di warung dekat kantor Jaker.

Tidak hanya itu, pertunjukan teater ala Aryo ini juga minim kata-kata. Kadang-kadang hanya gerakan mulut tanpa suara. Kadang hanya dengan gerakan tubuh. Kadang juga dengan lirikan, ekspresi wajah, teriakan, dan lain sebagainya.

“Kadang-kadang sesuatu itu sudah tidak bisa diucapkan dengan kata-kata. Itulah metateater,” ujar pria kelahiran Jogjakarta, 6 Oktober 1967 ini.

Yang menarik, dalam metateater ala Aryo ini, para penonton juga dilibatkan sebagai pemain. “Pernah saya bermain dengan orang gila. Tetapi orang tidak tahu kalau orang itu gila,” tuturnya.

Malam itu, aktivis kebudayaan asal Pekanbaru, Riau itu membacakan dua sajaknya: Orang-Orang Makan Asap dan Indomie Telur. Sajak Orang-Orang Makan Asap mengkritik pedas bencana kabut asap akibat kebakaran hutan di wilayah Sumatera dan Kalimantan.

Orang-orang makan asap/ Anak-anak kecil makan asap/ Gadis-gadis yang baru pertama jatuh cinta pada negerinya makan asap/ Pemuda makan asap/ Orang-orang yang bekerja memembus kabut, menembus asap/ para pemulung makan asap/ pedagang kaki lima makan asap/ polisi di jalanan makan asap/ Orang-orang makan asap/ Orang-orang dimakan asap

Sajak-sajak Aryo memang berbau kritik sosial. Ini tidak terlepas dari aktivitasnya sebagai manusia pergerakan. Selain berkecimpung di Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat (Jaker), Aryo juga adalah aktivis Partai Rakyat Demokratik (PRD).

Aryo sendiri mulai berkesenian sejak 1986. Saat itu dia mulai menulis cerpen, cerbung, dan lakon drama. Sebagai seniman cum aktivis pergerakan, Aryo kerap tampil di tengah-tengah aksi protes. Seperti baru-baru ini, ketika ia mementaskan metatetaer untuk menggugat kabut asap yang menyelimuti Indonesia.

Di acara itu, Aryo juga mementaskan metateater berjudul “Riau Punya Cerita”. Di selingi dengan hujan deras yang mengguyur Ibukota malam itu. “Karena malam ini ada kawan-kawan lain juga yang akan tampil, jadi metateater ini saya ambil singkat saja,” ujar Aryo.

Dalam acara tersebut, ada juga pembacaan sajak oleh AJ Susmana, Medi Muamar, Tari Adinda, Tora Kundera, dan Robiantoro Hulopi. Juga penampilan Denix Felle membawakan mop Papua (cerita lucu ala Papua) yang mengocok perut hadirin. Juga diiringi lagu-lagu perjuangan oleh Irfan, Rebel, dan Jack-Lubis.

Sumber Artikel: Berdikari Online

Setiap Tempat Adalah Panggung, dan.....

Dengan latar hitam, juga sebuah lukisan sederhana bergambar anak-anak bermain musik, puisi-puisi protes mengalir deras dari mulut seorang bekas tahanan politik di era kediktatoran Orde Baru.

Dia adalah Roso Suroso. Rabu (9/12/2015) malam, Roso sedang membacakan puisi-puisinya di acara ‘Reboan Jaker”. Ini sekaligus sosialisasi rencana pembukuan karya-karya puisinya oleh Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat (Jaker).

Malam itu Roso membacakan sejumlah puisinya, seperti Kami Datang Menentang Ketidakadilan (2015), Ada Yang Aneh di Negeri Ini (2015), Kanak-Kanak Menggendong Bayi (2015), Kepada Kekuasaan (2015), Di Batas Kerinduan (1998), dan Ketika Aku Bertanya (1998).

Puisi-puisi itu ditulis dalam rentang waktu antara 1998 hingga sekarang. Sebagian besar berbau kritik sosial. Seperti puisi Kami Datang Menentang Ketidakadilan (2015). Puisi ini berisi ungkapan tentang arti penting dari aksi massa atau demonstrasi.

Kami datang berdemonstrasi/ Menyampaikan keinginan yang belum terpenuhi/ Menuntut hak kami yang selalu dipreteli/ Melawan segala yang kami anggap salah/ Meneggakkan keadilan yang semestinya kami rasa ()

Di lihat dari tanggal pembuatannya, yakni 9 November 2015, puisi adalah kritik pedas terhadap Peraturan Gubernur (Pergub) DKI Jakarta terkait penyampaian pendapat di muka umum. Bagi banyak pihak, termasuk Roso, Pergub tersebut justru mengekang hak-hak rakyat untuk berpendapat dan memperjuangkan hak-haknya.

Kemudian puisi Kanak-Kanak Menggendong Bayi (2015). Puisi bercerita tentang anak jalan yang harus mengemis di dekat perempatan lampu merah. Sebuah pemandangan umum di hampir semua kota-kota besar di Indonesia.

Kanak-kanak menggendong bayi/ Diam di persimpangan/ Di bawah tiang lampu jalan/ Ditingkah bising kendaraan/ Dalam malam yang kian matang/ Menanti rezeki yang tak kunjung datang.

Lain lagi dengan puisi Ada Yang Aneh di Negeri Ini (2015). Jelas sekali, puisis adalah ungkapan kekecewaan dan kritik si penulis puisi terhadap bungkamnya sebagian besar aktivis ketika pemerintahan Jokowi-JK mengeluarkan kebijakan yang merugikan rakyat.

“..Lalu dimana para aktivisnya yang selama ini teriak lantang menentang kebijakan penguasa?” begitulah bunyi selarik puisi tersebut.

Sedangkan puisi Di Batas Kerinduan (1998) lain lagi. Puisi ini ditulis oleh Roso saat masih mendekam di balik jeruji besi, tepatnya di LP Cipinang, tahun 1998. Puisi ini menggambarkan kerinduan si penulis dengan aksi massa yang sering dilakoni bersama kawan-kawan seperjuangannya di Partai Rakyat Demokratik (PRD).

Tubuh-tubuh berkeringat/ Ikat kepala merah/ Barisan massa memanjang/ Spanduk dan tuntutan terpampang/ Teriakan massa bersahutan/ Tangan tetap bergandengan/ Merangsek tembok kekuasaan.

Untuk diketahui, pasca tragedi 27 Juli 1996, aktivis PRD menjadi sasaran pemburuan oleh penguasa Orba. Tidak terkecuali Roso. Singkat cerita, dia pun ditangkap dan dipenjara oleh Orde baru bersama beberapa pimpinan PRD lainnya, seperti Budiman Sudjatmiko, Petrus Hari Hariyanto, I Gusti Anom Astika, Yakobus Eko Kurniawan, Wilson, Ignatius Pranowo, Garda Sembiring, dan Ken Budha Kusumandaru. Mereka baru menghirup udara bebas pada 10 Desember 1999.

Menurut Antun Joko Susmana, puisi-puisi Roso tergolong puisi kemarahan. “Puisi tersebut dulu menjadi senjata protes di jaman Orba. Salah satu tokohnya adalah Wiji Thukul,” ujar Wakil Ketua Umum KPP-PRD ini.

Yang menarik, kata AJ Susmana, puisi Roso tidak hanya mengungkapkan kemarahan atau protes, tetapi juga dilengkapi dengan data hasil observasi dan riset yang mendalam.

“Seperti puisi Wajah Negeri (2010), Roso menggambarkan sangat detail bagaimana kapitalisme mengcekik rakyat. Listrik belum masuk, tapi handphone sudah ada. Lalu mereka dicekik dengan harga pulsa. Penggambaran sedetail itu tidak mungkin tanpa observasi dan riset,” jelasnya.

Selain dibacakan oleh Roso sendiri, puisi-puisinya juga dibacakan oleh Dominggus Oktavianus dan Willy Soeharly. Dominggus, yang juga Sekretaris Jenderal PRD, membacakan puisi Roso yang berjudul Kemarau Begitu Panjang (2015). Sedangkan Willy membacakan puisi berjudul Di Batas Kerinduan (1998).

Acara ini juga diselingi dengan musikalisasi puisi oleh duo Jack dan Lubis. Juga penampilan dari anak-anak muda penggemar rock yang menyebut dirinya Rebel.



Sumber Artikel: Berdikari Online

Roso Suroso Dan Puisi Sebagai Senjata Kritik


Sayembara Buku Puisi, Diskusi Buku Pemenang HPI 2013-2014, Seminar Internasional, Parade Baca Puisi, Pidato Kebudayaan, Malam Anugerah Hari Puisi Indonesia.


Untuk info lebih lanjut buka link ini 

Hari Puisi Indonesia 2015

mendung hitam tebal
masukkan itu jemuran
dan bantal-bantal
periksa lagi genting-genting
barangkali bocornya pindah

udara gerah
ruangan gelap
listrik tak nyala
mana anak kita?

hujan akan lebat lagi nampaknanya
semoga tanpa angin keras

burung-burung parkit itu
masih berkicau juga dalam kandangnya
burung-burung parkit itu
apakah juga pingin punya rumah sendiri
seperti kami?

kalangan-solo, 25 november 91


Hujan

tetangga sebelahku
pintar bikin suling bambu
dan memainkan banyak lagu

tetangga sebelahku
kerap pinjam gitar
nyanyi sama anak-anaknya

kuping sebelahnya rusak
dipopor senapan

tetangga sebelahku
hidup bagai dalam benteng
melongok-longok selalu
membaca bahaya

tetangga sebelahku
diterror masa lalu

kalangan-solo, november 1991


Tetangga Sebelahku

panas campur debu
terbawa angin ke mana-mana

koran hari ini memberitakan
kedungombo menyusut kekeringan
korban pembangunan dam
muncul kembali ke permukaan
tanah-tanah bengkah
pohon-pohon besar malang-melintang
makam-makam bangkit dari ingatan
mereka yang dulu diam

kali ini
cerita itu siapa akan membantah
dasar waduk ini dulu dusun rumah-rumah

waktu juga yang menyingkap
retorika penguasa
walau senjata ditodongkan kepadamu
walau sepatu di atas kepalamu
di atas kepalaku
di atas kepala kita

ceritakanlah ini kepada siapa pun
sebab cerita ini belum tamat

solo, 30 agustus 91


 

Ceritakanlah Ini Kepada Siapa Pun

kepada para pelaku
ini adalah daerah kekuasaan kami
jangan lewati batas ini
jangan campuri apa yang terjadi di sini
karena kalian penonton
kalian adalah orang luar
jangan rubah cerita yang telah kami susun
jangan belokkan jalan cerita yang telah kami rencanakan
karena kalian adalah penonton
kalain adalah orang luar
kalian harus diam

panggung seluas ini hanya untuk kami
apa yagn terjadi d sini
jangan ditawar-tawar lagi
panggung seluas ini hanya untuk kami
jangan coba bawa pertanyaan-pertanyaan berbahaya
ke dalam permainan ini
panggung seluas ini hanya untuk kami
kalian harus bayar kami
untuk membiayai apa yang kami kerjakan di sini

biarkan kami menjalankan kekuasaan kami
tontonlah
tempatmu di situ

solo, 21 november 91


Batas Panggung

dulu kanan dan kiri jalan ini
pohon-pohon asam besar melulu
saban lebaran dengan teman sekampung
jalan berombongan
ke taman sriwedari nonton gajah

banyak yang berubah kini
ada holland bakery
ada diskotik ada taksi
gajahnya juga sudah dipindah
loteng-loteng arsitektur cina
kepangkas jadi gedung tegak lurus

hanya kereta api itu
masih hitam legam
dan terus mengerang
memberi peringatan pak-pak becak
yang nekat potong jalan
"hei hati hati
cepat menepi ada polisi
banmu digembos lagi nanti!"

solo, mei-juni 1991



Jalan Slamet Riyadi Solo

saban malam
dendam dipendam
protes diam-diam
dibungkus gurauan

saban malam
menyanyi menyabarkan diri
bau tembakau dan keringat di badan
campur aduk dengan kegelisahan

saban malam
mencoba bertahan menghadapi kebosanan
menegakkan diri dengan harapan-harapan
dan senyum rawan

saban malam
rencana-rencana menumpuk jadi kuburan

solo-sorogenen, 1 september 88


Catatan 88



Mengusung tema “SAKSI”, Sastra Reboan  yang pada 28 April 2015 lalu menginjak usianya yang ke tujuh akan menampilkan Jose Rizal Manua, aktor, sutradara teater dan deklamator terkenal. Lulusan Institut Kesenian Jakarta yang dilahirkan  di Padang, 14 September 1954 ini akan membawakan monolog “Mas Joko”.

Nyanyian puisi, yang sering diistilahkan dengan musikalisasi puisi, akan mengisi panggung di Warung Apresiasi (Wapres), Bulungan, Jakarta Selatan dengan tampilnya dua grup. Mereka adalah Jaker (Jaringan Kerja Kebudayaan) dan Zely Ariane yang akan diiringi seniman dari Papua.
Zely Ariane akan diiringi oleh grup Inyarme Papua, yang akan mengajak penikmat seni untuk mengingat segala hal tentang Papua,dan membuka pikiran semua pihak tentang solidaritas bagi sesama.

Tentunya, pembacaan puisi juga akan dialirkan pada Sastra Reboan yang untuk pertama kalinya diadakan di awal bulan ini. Melia Haruko, Yayok Apfd, Farhanah, Masita Riany berduet dengan Andreas Iswinarto, Yo Sugianto, Josephine Maria dan Wildan Chopa.

Beberapa nama pembaca puisi di atas  sudah dikenal bagi Reboaners, sebutan yang entah siapa yang memberikannya, karena beberapa kali tampil. Namun terdapat dua wajah baru, Farhanah adalah editor di Rutgers WPF Indonesia (bergerak di bidang hak dan kesehatan seksualitas dan reproduksi). Sementara itu, Melia Haruko senang menjadi relawan di berbagai organisasi seperti LSM HIV Aids dan Komnas Perempuan.

Sedangkan nyanyian atau musik semata tanpa kata kali ini menampilkan dua wajah baru, yang pertama kalinya tampil di Sastra Reboan, yakni Iskandar Kunaefi yang memainkan alat musik bass dan duo Westy & Milano. Grup 4Weekend yang makin matang penampilannya juga tampil.  Wajah baru pun ada pada pembawa acara alias MC yaitu Heri Cakiel  dan Zhevitha Haryani.

Semoga waktu, suasana hati dan cuaca memihak  kawan - kawan semuanya untuk datang melangkahkan kaki memeriahkan sastra dan seni di Sastra Reboan.


________
Undangan dari #ReboanSastra

 

Reboan Sastra




Sastra, lewat karya para penyair, telah membuktikan bahwa puisi bisa berfungsi sebagai alat untuk menyampaikan gagasan-gagasan politik seseorang, juga reaksi saat melihat suatu akibat dari kebijakan poltik. Begitu pula bisa kita baca pada cerita pendek atau novel. Pandangan  sang penulis tentang  apa yang dilihat dan atau dialaminya pada kehidupan bermasyarakat, tempatnya berpijak.

Para pelaku politisi, para politisi pun, yang akrab dengan puisi atau karya sastra cenderung mempunyai kepekaan terhadap rakyatnya, mereka yang diwakilinya. Mereka yang suka sastra, apalagi juga menulis, biasanya akan bersikap jujur terhadap rakyatnya.

Pentingnya puisi itu bahkan disampaikan oleh seorang senator muda Amerika Serikat, saat berpidato di depan para anggota perkumpulan alumni Harvard, di Cambridge, Massachusetts, 14 Juni 1956. Senator tampan yang saat itu berusia 39 tahun  mengatakan,” "Jika lebih banyak politisi yang tahu puisi, dan lebih banyak penyair tahu politik, saya yakin dunia akan menjadi tempat hidup yang sedikit lebih baik."

Tak sekali itu saja senator itu bicara soal puisi. Saat menjadi Presiden Amerika  Serikat yang ke-35, ia berkata,”Ketika kekuasaan membawa manusia mendekati arogansi, puisi mengingatkannya kepada keterbasannya. Ketika kekuasaan mendangkalkan wilayah kepedulian manusia, puisi mengingatkannya betapa kaya keberagaman eksistensi. Ketika kekuasaan menyimpang, puisi membersihkan."

Di sinilah penulis  sastra punya peranan penting dalam masyarakatnya. Ia tak mesti jadi politisi untuk bersaksi,tapi ia pun tak bisa menutup telinga dan mata, apalagi hati, terhadap apa yang terjadi di masyarakat. Dari sinilah lalu kita melihat karya-karya sastra yang sarat dengan kritik sosial, dengan segala resiko yang ditanggung penulisnya, seperti dijumpai pada WS Rendra atau Wiji Thukul, .

Sastra Reboan pada 10 Juni 2015 ini ingin mengangkat kepedulian sastrawan, pelaku seni lainnya akan segala yang terjadi dan ditangkap dengan kepekaannya, akhir-akhir ini di masyarakat. Kita tak hanya melihat, tapi merasakan secara langsung makin beratnya biaya kehidupan sehari-hari, menyaksikan pertengkaran politik dari wakil rakyat, para pelaku sepakbola yang terpukul dengan pembekuaan keanggotaan PSSI oleh FIFA dan berbagai peristiwa lainnya.

Kepedulian, kesaksian ini tidak serta merta ditafsirkan sastrawan berpolitik, meski itu tak dilarang karena hak masing-masing individu. Sastra Reboan pun sebagai suatu komunitas tak mau terseret dalam politik praktis, tapi berusaha kritis menyikapi apa yang terjadi akibat keputusan politik para penguasa, meski hanya dalam lirik puisi,lagu, teater atau monolog.


_______________________
Sebuah tulisan dari Kawan #ReboanSastra

Apa korelasi Puisi dan Politisi? Ini Jawabannya

ini tanahmu juga
rumah-rumah yang berdesakan
manusia dan nestapa
kampung halaman gadis-gadis muda

buruh-buruh berangkat pagi pulang sore
dengan gaji tak pantas
kampung orang-orang kecil
yang dibikin bingung

oleh surat-surat izin dan kebijaksanaan
dibikin tunduk mengangguk
bungkuk

ini tanah airmu
di sini kita bukan turis

solo-sorogenen, malam pemilu 87


Sajak Kepada Bung Dadi

ibu pernah mengusirku minggat dari rumah
tetapi menangis ketika aku susah
ibu tak bisa memejamkan mata
bila adikku tak bisa tidur karena lapar
ibu akan marah besar
bila kami merebut jatah makan
yang bukan hak kami
ibuku memberi pelajaran keadilan
dengan kasih sayang
ketabahan ibuku
mengubah rasa sayur murah
jadi sedap

ibu menangis ketika aku mendapat susah
ibu menangis kerika aku bahagia
ibu menangis ketika adikku mencuri sepeda
ibu menangis ketika adikku keluar penjara

ibu adalah hati yang rela menerima
selalu disakiti oleh anak-anaknya
penuh maaf dan ampun
kasih sayang ibu
adalah kilau sinar kegaiban tuhan
membangkitkan haru insan

dengan kebajikan
ibu mengenalkan aku kepada tuhan

solo, 1986


Sajak Ibu

bagong namanya
tantanglah berkelahi
kepalamu pasti dikepruk batu
bawalah whisky
bahumu pasti ditepuk-tepuk gembira
ajaklah omong
tapi jangan khotbah
ia akan kentut

bagong namanya
malam begadang
subuh tidur bangun siang
sore parkir untuk makan
awas jangan ngebut di depan matanya
engkau bisa dipukuli
lalu ditinggal pergi

ya, ya.. bagong namanya
pemilu kemarin besar jasanya
bagong ya bangong
tapi bagong sudah mati
pada suatu pagi
mayatnya ditemukan orang
di tepi rel kereta api
setahun yang lalu
ya, ya.. setahun yang lalu


Sajak Bagong

jika kau tak sanggup lagi bertanya
kau akan ditenggelamkan keputusan-keputusan

jika kau tahan kata-katamu
mulutmu tak bisa mengucapkan
apa maumu terampas

kau akan diperlakukan seperti batu
dibuang dipungut
atau dicabut seperti rumput

atau menganga
diisi apa saja menerima
tak bisa ambil bagian

jka kau tak berani lagi bertanya
kita akan jadi korban keputusan-keputusan
jangan kau penjarakan ucapanmu

jika kau menghamba pada ketakutan
kita akan memperpanjang barisan perbudakan

kemasan-kentingan-sorogenen

Sajak Bapak Tua
bapak tua
kulitnya coklat dibakar matahari kota
jidatnya berlipat-lipat seperti sobekan luka

pipinya gosong disapu angin panas
tenaganya dikuras
di jalan raya siang tadi

sekarang bapak mendengkur

dan ketika bayanga esok pagi datang
di dalam kepalaku
bis tingkat itu tiba-tiba berubah
jadi ikan kakap raksasa
becak-becak jadi ikan teri
yang tak berdaya

solo, juni 1987


Ucapkan Kata-Katamu

 
JAKER © 2015 - Thanks to Tedi CHO