Tampilkan postingan dengan label PUISI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PUISI. Tampilkan semua postingan

Di penghujung senja ku hisap angan
Bersama angin lembut pegunungan
Diantara belukar pinggiran kota
Mengenang hari hari yang tersisa

Dingin malam menusuk tulang
Sesaat berpaling pada khayalan
Mencari kesempurnaan hidup mencerna kisah semalam

Hariku berlaku tanpa batas
Mengungkap cakrawala dalam impian
Iringan angin menghantar pesan
Tentang rakyat yang tak pernah diam
Mencampur cinta dan amarah
Dalam amuk gelombang kekuasaan

Kemarin masih dapat kita berjumpa
Dengan mimpi yang menggoda
Tentang kekuasaan yang menyejukkan
Beriringan pemimpin yanng berjiwa

Melindungi rakyat dari ketamakan
Membasuh luka yang telah
menganga
Menyirami dengan kebijakan dann keadilan
Melepaskan belenggu yang mengekang langkah
Menyingkirkan beban derita

#
Di penghujung senja ku hisap angan
Bersama angin lembut pegunungan
Diantara belukar pinghiran kota
Dilingkup awan menyambut malam

Kemarin masih bisa kita tertawa
Ditumpukan janji para pendusta
Saatvmemilih pemimpin bangsa
Serta wakil rakyat di kursi dewan

Dalam kemeriahan pemilu raya
Kita turut menjarah uang negara
Meraup keuntungan sesaat tanpa rasa berdosa
Menerima rupiah dari kantung peserta
Yang dibagikan menjelang pesta

Kemarin masih dapat kita berjalan
Ditengah gemuruh berjuta pilihan
Janji terpampang sepanjang jalan
Menyuguhkan muslihat dan kebohongan

#
Di penghujung senja ku hisap angan
Bersama angin lembut pegunungan
Diantara belukar pinggiran kota
Memandang batas kegelapan

Mari coba kita renungkan
Laku diri yang pernah dilakukan
Dalam menghantar tahun berjalan
Menuju perubahan dan peradaban


Roso Suroso
Ciwidey, 19 Desember 2015

Di Penghujung Senja


Sayembara Buku Puisi, Diskusi Buku Pemenang HPI 2013-2014, Seminar Internasional, Parade Baca Puisi, Pidato Kebudayaan, Malam Anugerah Hari Puisi Indonesia.


Untuk info lebih lanjut buka link ini 

Hari Puisi Indonesia 2015

mendung hitam tebal
masukkan itu jemuran
dan bantal-bantal
periksa lagi genting-genting
barangkali bocornya pindah

udara gerah
ruangan gelap
listrik tak nyala
mana anak kita?

hujan akan lebat lagi nampaknanya
semoga tanpa angin keras

burung-burung parkit itu
masih berkicau juga dalam kandangnya
burung-burung parkit itu
apakah juga pingin punya rumah sendiri
seperti kami?

kalangan-solo, 25 november 91


Hujan

tetangga sebelahku
pintar bikin suling bambu
dan memainkan banyak lagu

tetangga sebelahku
kerap pinjam gitar
nyanyi sama anak-anaknya

kuping sebelahnya rusak
dipopor senapan

tetangga sebelahku
hidup bagai dalam benteng
melongok-longok selalu
membaca bahaya

tetangga sebelahku
diterror masa lalu

kalangan-solo, november 1991


Tetangga Sebelahku

panas campur debu
terbawa angin ke mana-mana

koran hari ini memberitakan
kedungombo menyusut kekeringan
korban pembangunan dam
muncul kembali ke permukaan
tanah-tanah bengkah
pohon-pohon besar malang-melintang
makam-makam bangkit dari ingatan
mereka yang dulu diam

kali ini
cerita itu siapa akan membantah
dasar waduk ini dulu dusun rumah-rumah

waktu juga yang menyingkap
retorika penguasa
walau senjata ditodongkan kepadamu
walau sepatu di atas kepalamu
di atas kepalaku
di atas kepala kita

ceritakanlah ini kepada siapa pun
sebab cerita ini belum tamat

solo, 30 agustus 91


 

Ceritakanlah Ini Kepada Siapa Pun

kepada para pelaku
ini adalah daerah kekuasaan kami
jangan lewati batas ini
jangan campuri apa yang terjadi di sini
karena kalian penonton
kalian adalah orang luar
jangan rubah cerita yang telah kami susun
jangan belokkan jalan cerita yang telah kami rencanakan
karena kalian adalah penonton
kalain adalah orang luar
kalian harus diam

panggung seluas ini hanya untuk kami
apa yagn terjadi d sini
jangan ditawar-tawar lagi
panggung seluas ini hanya untuk kami
jangan coba bawa pertanyaan-pertanyaan berbahaya
ke dalam permainan ini
panggung seluas ini hanya untuk kami
kalian harus bayar kami
untuk membiayai apa yang kami kerjakan di sini

biarkan kami menjalankan kekuasaan kami
tontonlah
tempatmu di situ

solo, 21 november 91


Batas Panggung

dulu kanan dan kiri jalan ini
pohon-pohon asam besar melulu
saban lebaran dengan teman sekampung
jalan berombongan
ke taman sriwedari nonton gajah

banyak yang berubah kini
ada holland bakery
ada diskotik ada taksi
gajahnya juga sudah dipindah
loteng-loteng arsitektur cina
kepangkas jadi gedung tegak lurus

hanya kereta api itu
masih hitam legam
dan terus mengerang
memberi peringatan pak-pak becak
yang nekat potong jalan
"hei hati hati
cepat menepi ada polisi
banmu digembos lagi nanti!"

solo, mei-juni 1991



Jalan Slamet Riyadi Solo

saban malam
dendam dipendam
protes diam-diam
dibungkus gurauan

saban malam
menyanyi menyabarkan diri
bau tembakau dan keringat di badan
campur aduk dengan kegelisahan

saban malam
mencoba bertahan menghadapi kebosanan
menegakkan diri dengan harapan-harapan
dan senyum rawan

saban malam
rencana-rencana menumpuk jadi kuburan

solo-sorogenen, 1 september 88


Catatan 88

ini tanahmu juga
rumah-rumah yang berdesakan
manusia dan nestapa
kampung halaman gadis-gadis muda

buruh-buruh berangkat pagi pulang sore
dengan gaji tak pantas
kampung orang-orang kecil
yang dibikin bingung

oleh surat-surat izin dan kebijaksanaan
dibikin tunduk mengangguk
bungkuk

ini tanah airmu
di sini kita bukan turis

solo-sorogenen, malam pemilu 87


Sajak Kepada Bung Dadi

ibu pernah mengusirku minggat dari rumah
tetapi menangis ketika aku susah
ibu tak bisa memejamkan mata
bila adikku tak bisa tidur karena lapar
ibu akan marah besar
bila kami merebut jatah makan
yang bukan hak kami
ibuku memberi pelajaran keadilan
dengan kasih sayang
ketabahan ibuku
mengubah rasa sayur murah
jadi sedap

ibu menangis ketika aku mendapat susah
ibu menangis kerika aku bahagia
ibu menangis ketika adikku mencuri sepeda
ibu menangis ketika adikku keluar penjara

ibu adalah hati yang rela menerima
selalu disakiti oleh anak-anaknya
penuh maaf dan ampun
kasih sayang ibu
adalah kilau sinar kegaiban tuhan
membangkitkan haru insan

dengan kebajikan
ibu mengenalkan aku kepada tuhan

solo, 1986


Sajak Ibu

bagong namanya
tantanglah berkelahi
kepalamu pasti dikepruk batu
bawalah whisky
bahumu pasti ditepuk-tepuk gembira
ajaklah omong
tapi jangan khotbah
ia akan kentut

bagong namanya
malam begadang
subuh tidur bangun siang
sore parkir untuk makan
awas jangan ngebut di depan matanya
engkau bisa dipukuli
lalu ditinggal pergi

ya, ya.. bagong namanya
pemilu kemarin besar jasanya
bagong ya bangong
tapi bagong sudah mati
pada suatu pagi
mayatnya ditemukan orang
di tepi rel kereta api
setahun yang lalu
ya, ya.. setahun yang lalu


Sajak Bagong

jika kau tak sanggup lagi bertanya
kau akan ditenggelamkan keputusan-keputusan

jika kau tahan kata-katamu
mulutmu tak bisa mengucapkan
apa maumu terampas

kau akan diperlakukan seperti batu
dibuang dipungut
atau dicabut seperti rumput

atau menganga
diisi apa saja menerima
tak bisa ambil bagian

jka kau tak berani lagi bertanya
kita akan jadi korban keputusan-keputusan
jangan kau penjarakan ucapanmu

jika kau menghamba pada ketakutan
kita akan memperpanjang barisan perbudakan

kemasan-kentingan-sorogenen

Sajak Bapak Tua
bapak tua
kulitnya coklat dibakar matahari kota
jidatnya berlipat-lipat seperti sobekan luka

pipinya gosong disapu angin panas
tenaganya dikuras
di jalan raya siang tadi

sekarang bapak mendengkur

dan ketika bayanga esok pagi datang
di dalam kepalaku
bis tingkat itu tiba-tiba berubah
jadi ikan kakap raksasa
becak-becak jadi ikan teri
yang tak berdaya

solo, juni 1987


Ucapkan Kata-Katamu

lingkungan kita si mulut besar
dihuni lintah-lintah
yang kenyang menghisap darah keringat tetangga
dan anjing-anjing yang taat beribadah
menyingkiri para panganggur
yang mabuk minuman murahan

lingkungan kita si mulut besar
raksasa yang membisu
yang anak-anaknya terus dirampok
dan dihibur film-film kartun amerika
perempuannya disetor
ke mesin-mesin industri
yang membayar murah

lingkungan kita si mulut besar
sakit perut dan terus berak
mencret oli dan logam
busa dan plastik
dan zat-zat pewarna yang merangsang
menggerogoti tenggorokan bocah-bocah
yang mengulum es
limapuluh perak

kampung kalangan-solo, desember 1991

Lingkungan Kita Si Mulut Besar

udara AC asing di tubuhku
mataku bingung melihat
deretan buku-buku sastra
dan buku-buku tebal intelektual terkemuka
tetapi harganya
Ooo.. aku ternganga

musik stereo mengitariku
penjaga stand cantik-cantik
sandal jepit dan ubin mengkilat
betapa jauh jarak kami

uang sepuluh ribu di sakuku
di sini hanya dapat 2 buku
untuk keluargaku cukup buat
makan seminggu

gemerlap toko-toko di kota
dan kumuh kampungku
dua dunia yang tak pernah bertemu

solo, 87-88


Catatan

jalan raya dilebarkan
kami terusir
mendirikan kampung
digusur
kami pindah-pindah
menempel di tembok-tembok
dicabut
terbuang

kami rumput
butuh tanah
dengar!
Ayo gabung ke kami
Biar jadi mimpi buruk presiden!

juli 1988



Nyanyian Akar Rumput

anjing nyalak
lampuku padam
aku nelentang
sendirian
kepala di bantal
pikiran menerawang
membayang pernikahan
(pacarku buruh harganya tak lebih dua ratus rupiah per jam)
kukibaskan pikiran tadi dalam gelap makin pekat

aku ini penyair miskin
tapi kekasihku cinta

cinta menuntun kami ke masa depan

solo-kalangan, 23 februari 88


Catatan Malam

di sini kamu bisa menikmati cicit tikus
di dalam rumah miring ini
kami mencium selokan dan sampan
bagi kami setiap hari adalah kebisingan
di sini kami berdesak-desakan dan berkeringat
bersama tumpukan gombal-gombal
dan piring-piring
di sini kami bersetubuh dan melahirkan
anka-anak kami

di dalam rumah miring ini
kami melihat matahari menyelinap
dari atap ke atap
meloncati selokan
seperti pencuri

radio dari segenap penjuru
tak henti-hentinya membujuk kami
merampas waktu kami dengan tawaran-tawaran
sandiwara obat-obatan
dan berita-berita yang meragukan

kami bermimpi punya rumah untuk anak-anak
tapi bersama hari-hari pengap yang menggelinding
kami harus angkat kaki
karena kami adalah gelandangan

solo, oktober 87

 

Suara Dari Rumah-Rumah Miring

monumen bambu runcing
di tengah kota
menuding dan berteriak merdeka
di kakinya tak jemu juga
pedagang kaki lima berderet-deret
walau berulang-ulang
dihalau petugas ketertiban

semarang, 1 maret 86

Riwayat
seperti tanah lempung
pinggir kampung
masa laluku kuaduk-aduk
kubikin bentuk-bentuk
patung peringatan

berkali-kali
kuhancurkan
kubentuk lagi
kuhancurkan
kubentuk lagi
patungku tak jadi-jadi

aku ingin sempurna
patungku tak jadi-jadi

lihat!
diriku makin belepotan
dalam penciptaan

kalangan, oktober 87


Monumen Bambu Runcing

pulanglah nang
jangan dolanan sama si kuncung
si kuncung memang nakal
nanti bajumu kotor lagi
disirami air selokan

pulanglah nang
nanti kamu manangis lagi
jangan dolanan sama anaknya pak kerto
si bejo memang mbeling
kukunya hitam panjang-panjang
kalau makan tidak cuci tangan
nanti kamu ketularan cacingan

pulanglah nang
kamu kan punya mobil-mobilan
kapal terbang bikinan taiwan
senapan atom bikinan jepang
kamu kan punya robot yang bisa jalan sendiri

pulanglah nang
nanti kamu digebugi mamimu lagi
kamu pasti belum tidur siang

pulanglah nang
jangan dolanan sama anaknya mbok sukiyem
mbok sukiyem memang keterlaluan
si slamet sudah besar tapi belum disekolahkan

pulanglah nang
pasti papimu marah lagi
kamu pasti belum bikin PR
belajar yang rajin
biar nanti jadi dokter

Solo, september 86

 

Pulanglah Nang

kami manusia kini
najis dan koyak di kutuk sejarah.
zaman budak, zaman feodal
dan zaman penghisapan kapital
yang ingin ‘ngubur kembali
kemenangan manusia atas hewan
dengan wabah hak milik perseorangan.

sorga dipanggil
neraka dipanggil
perang dipanggil
malaikat dan setan
jadi alat penegak nafsu.

kami manusia kini
najis dan koyak dikutuk sejarah.
menggeliat meraih fajar
dunia milik bersama
yang membunga berwarna merah.

dan kami panggil sorga
tetapi lempar neraka
memuja damai
dan hukum perang
kawan malaikat
seteru setan
sucikan diri dari
rawa koreng zaman lama berabad-abad.

dan kami dalam sucikan diri
ciptakan udara baru
bagi manusia yang meraih fajar
bagi manusia yang ingin wajar
bagi manusia malaikat dan bidadari.

kami manusia kini
suci ditempa sejarah
manusia – yang tak kenal menyerah
manusia – penguasa alam raya:
membuka pintu ke dunia fajar bersinar
ketok hati ke manusia besar karena wajar.


Mars ke Sosialisme

 
JAKER © 2015 - Thanks to Tedi CHO